Selasa, 22 Desember 2015

Nobody but you

“ piping…duluan ka nah “ ujar nila kepadaku saat pacarnya anak  sastra datang menjemputnya

“yooo” ujarku sambil melambaikan tangan, dan dia pun pergi bersama soulmatenya itu, semua sudah pulang masing-masing tinggal lah aku sendiri, tak punya planing seperti yang lainnya, jalan ke mall, nonton di bioskop, atau jalan ke pantai, aku cewek yang tidak terlalu suka dengan kegiatan seperti itu, aku lebih suka duduk di depan PC ku berkutik dengan game atau desainku,  menonton film-film kesukaan  atau OL seharian.

aku akan pulang saja dan menikmati kegiatan yang ku suka itu, tapi….sesuatu sedang mengangguku, sesuatu hal, kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali, apa dia lupa kalau dia itu punya pacar yang menantikan sebaris sms darinya.

“weeee adaki adik iparku “ teriak kak iwan yang lagi main kartu bersama kak roim, kak ancu dan kak uban, aku hanya tersenyum saja saat mereka memandangi ku bersamaan.

“pasti ko cari si sundala’ itu toh “ ujar kak roim yang penuh jepitan baju di kupingnya, pasti sangat sakit di jepit seperti itu.

“tidak ji kak, kangen ka sama kita yaa…” jawabku duduk di sampingnya.

“balle..balle mi lagi, ngaku mako saja deh “

“ikh serius ka..kangen sekali ka sama kak roim “

“serius ko ini… pijat-pijat paeng dulu “ candanya

“jangko tolo, ndak pernah ki mandi itu, kotor ki itu tangan mu nanti. Na lengket semua ki itu dakinya” sahut kak uban

“apa tong ko sundala’, iri ko saja “ tukas kak roim, aku hanya tertawa mendengar ocehan mereka, ku ambil gitar yang ada di kursi, gitar milik si dia.

“request ka dulu lagunya Naff “ ujar kak ancu

“akhh lagunya mo Demassive “ Tukas kak uban cepat

“yang ini mo saja “ ujarku memetik senar gitar, petikan nadanya membuat mereka berseru ramai, lagu milik tenri ukke. Lagi ini adalah lagu dangdut Bugis yang pertama kali aku mainkan, itu pun karena kak roim yang mengerjaiku waktu ospek Maba.

“aseeekk…….sekali lagi “ seru kak uban

“yang lain mo saja nah, talipat ki lidah ku klo lagu dangdut “ ucapku menyerah

Seseorang muncul di pintu, membuatku berhenti memainkan gitar, dia tidak sendiri tapi bersama seorang cewek cantik berwajah oriental, matanya langsung memandang ku, tatapannya tampak berbeda, seakan terkejut melihatku ada di base campnya.

“Sundala’ dari mana ko saja, lama mi piping tunggu ko “ ujar kak roim “ ehhh ada ki regina “ lanjut kak roim saat menyadari kalau dia datang bersama seorang cewek yang ternyata di kenalnya

“hai kak “ ujarnya cewek tersebut tersenyum manis

“Regina, mana ki gaby “ Tanya kak uban, sepertinya semua anak basecamp mengenalnya

“masih ada kuliahnya kak “ ujar cewek cantik bernama regina tersebut, cewek itu melihatku, ada tatapan tanya di matanya tapi dia melemparkan ku sedikit senyuman, aku pun membalasnya walaupun ada perasaan yang tidak enak melandaku.

tiba-tiba saja nada dering ponsel ku berbunyi, membuatku sangat terkejut , aku segera mengangkatnya “ kenapa la’?” tanyaku seraya beranjak dari dudukku menuju keluar.

“weee jangko lupa nah, kirim kan ka tugas mu “ ujar suar cempreng dari seberang sana

“yaaa”

“sudah paeng klo gitu..daaa piping bussu “ ujarnya sambil mematikan telepon, huuufff dasar nila hanya seperti itu saja dia pakai acara menelpon tapi aku benar-benar sangat berterima kasih dia menelponku, menyelamatkanku dari kondisi yang benar-benar membuatku kaki tangan ku keram.

Aku kembali masuk dan mengambil tas ku “mo ko kemana piping ?” Tanya kak roim

“adaki nila di pondok ka’, marah-marah ki karna ku kunci kamarku “ ujarku berbohong

“bah bagaimana ini, baru ki datang pangerannya nah mo ki pulang tuan putrinya “ ledek kak ancu, dia yang tak jauh dari tempatku hanya menatapku saja.

“pulang maka semua nah “ pamitku

“apaaa ini popo, kalau ada orangnya diam kaya patung, kalau ndak ada adddee banyaknya bicaranya…..antar ki “ ujar kak uban

“jangan mi, nah dekat ji kak “ tukas ku cepat

“dekat di mana nah bisa pecah ki itu betismu“ tukas kak ancu “ apa ini popo antar ki “

“jangan mi popo, lagian  mau ka juga mampir ke indomart” sahutku sangat cepat, baru kali ini aku menyebut namanya

“aiiiiiiiii, antar mi popo cowok apa ko itu masa ko biarin cewek mu jalan kaki“ ujar kak roim dengan nada sedikit agak keras.

“sini sa antar ko “ ujarnya berjalan duluan keluar dari basecamp, ouh sungguh membuatku tidak enak, apalagi cewek berwajah oriental itu terus-terusan menatapku, aku mengikutinya keluar.

“jangan mi “ ujarku saat dia menghampiriku dengan motor merahnya, dia tidak berbicara hanya mengulurkan helm kepadaku

“jangan mi deh “ ujarku lagi, dia tidak berbicara hanya menatapku lekat, tatapan matanya memaksaku dan mau tidak mau aku menerimanya dan naik keboncengan motornya, sepanjang perjalan tidak ada yang bicara, aku pun tidak niat untuk bicara dengan cowok kurus tinggi yang membonceng ku ini, aku tidak mengerti sungguh tidak mengerti, cowok yang hanya jaraknya beberapa centi dariku ini punya status adalah pacarku, tapi kami sama sekali tidak seperti mengenal.

Tadinya ke indomart hanyalah alasan tapi dia mampir juga, mau tidak mau aku masuk, padahal sama sekali tidak ada yang mau aku beli, terpaksa borong cemilan saja, saat keluar dia yang di tempat parkir sedang asyik berbicara dengan seseorang di telepon, tertawa, tersenyum, rasanya aku ingin kembali masuk ke indomart tapi telat dia melihatku, dia segera menutup pembicaraanya.
Sepanjang perjalanan ke pondokan ku pun dia tetap tidak berbicara, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

“ndak mampir ko?” tawarku saat sudah sampai di depan pondokan ku

“tidak……pulang maka nah “ ujarnya, aku hanya mengangguk, dan dia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Aku segera masuk kepondok, kamarku adalah hal yang paling ku ingin kan sekarang, kamar yang tidak terlalu luas, tapi lebih luas dari dunia.

“ada yang salah kah? “ guman ku duduk di tempat tidurku, memikirkan apa yang terjadi, kenapa dia begitu cuek dengan ku, dia memang cowok yang cuek tapi kenapa begitu cuek, seperti aku ini bukan apa-apa baginya.

Belum lagi cewek oriental itu benar-benar mengganggu fikiran ku, dia siapa, si cuek itu kenal dimana, dan kenapa mereka kelihatan begitu akrab, dan siapa yang tadi berbicara dengannya di telepon sampai dia tertawa dan tersenyum seperti orang gila, padahal dia tidak pernah seperti itu padaku.

Huuuuuuuufffffffttt, sungguh menyakitkan kepalaku.

Kuambil gitar ku, dan mulai menyanyi seperti orang gila, yah itulah aku jika kepalaku sakit, aku akan menggila dengan gitarku, setelah perasaan ku membaik baru aku berhenti.

……………..

“kenapa kalian ini, susah sekali, kelompok yang lain saja sudah maju “ bentak senior gondrong kepada kelompok kami yang belum memutuskan siapa yang akan mewakili kelompok kami untuk pentas sefakultas teknik, semua terdiam dan tidak ada tanda-tanda akan ada yang maju.

“tolo’ kalian semua ini “ bentaknya lagi mengagetkan ku, dasar senior seenak-enaknya saja, dan entah apa yang membuatku memberanikan diri berdiri, senior itu menatapku.

“mo ko apa ?” tanyanya

“saya saja yang wakili kak “ ujarku

“bisa ko apa ?” tanyanya

“kakak liat mi saja saya bisa apa “ ujarku sok berani

“rewanya ini anak “ ujarnya keras yang langsung membuat jiwa pemberontak ku jadi ciut kaya balon yang bocor  “ maju ko sana, jangko asal tampil ji “ ejeknya, aku segera maju bergabung dengan wakil-wakil kelompok lain

Semua berkumpul di aula yang begitu besar, setahuku dari kakak ku tidak ada hal seperti ini, saat inagurasi baru pentas seperti ini, semua bertepuk meriah saat kelompok anak teknik perkapalan selesai mementaskan drama mereka dan ternyata adalah tiba giliran ku. Aku cukup deg-degan, dengan modal gitar pinjaman dari senior pendamping aku pun maju, mereka menyoraki ku, sorakan menyepelekan, mungkin tidak terbiasa melihat cewek dengan gitar.

Beberapa kali aku menghela nafas, setelah ku mantapkan diriku, kumulai memetik senar gitar, dan petikan pertamaku dan selanjutnya membuat beberapa orang bersorak, tentu saja karena pasti mereka tau lagu apa yang aku nyanyikan lagu I’m yours milik Jason miraz, rasa grogi hilang saat beberapa orang mengikutiku bernyanyi ternyata banyak juga yang hobby nyanyi, rasanya aku seperti konser tunggal saja, menyenangkan, dan tepukan ramai mereka hadiahkan padaku..

“mau ko kemana ?” ujar si senior gondrong yang tadi menyepelekan ku saat aku berdiri

“selesai mi kak “ ujarku sok-sok hormat padahal aku muak

“siapa yang bilang….ini indonesia,Makassar , jadi  jangan mako british ki di sini “ ujarnya dengan suara galak, “lagu dangdut  bugis ko “ ujarnya.

Whattttt…aku hampir pingsan mendengarnya, dangdut…beberapa orang tertawa “kenapa diam “ Tanyanya lagi

“tidak sa tau ki kak “ ujarku

“ko orang apa?” tanyanya galak

“emm…orang bugis  kak “ jawabku ragu

“begini sudah anak indonesia, lagu daerah sendiri tidak tau, tapi kalau lagu luar na hafal sekali, mo jadi apa kalian itu, kalau karya daerah sendiri kalian tidak tau, pantas saja Negara luar selalu mau mengklaim budaya kita, karena anak bangsanya sediri saja tidak bisa menghargai…”ujarnya berorasi “coba liat kanda kalian, kanda popo dia senior paling gammara di teknik, juara debat bahasa inggris, tapi  dia tidak pernah malu menyanyi lagu daerahnya, tapi kalian jangan kan menyanyi, berbicara bahasa daerah sesama suku saja kalian malu “

“kau tugas mu belum selesai, cari ko kanda popo dalam 20 menit ko kembali ke sini sudah bisa nyanyiko lagu bugis”perintahnya padaku

Kanda popo?, kanda popo?, orangnya yang seperti apa?, para senior hanya bilang di sekretnya anak teknik mesin “kak yang mana kanda popo ?” Tanya ku ke cowok gondrong yang lagi asyik dengan netbooknya, dia memperhatikan ku “ piping toh “ ujarnya menyebut namaku, sepertinya dia mengenalku

“iya kak “ jawab ku

“besarnya mi ini anak, temannya kak kacemu anca, maba di sini ko juga ?”

“iya kak “

“mo ko apa cari popo ?” tanyanya

Aku pun menceritakan apa yang terjadi, dan dia hanya tertawa “memang bigitu roim,….”gumannya  “itu sana orang  yang ko cari “ dia menunjuk seseorang yang sibuk dengan komputernya dengan headset di kepalanya “sana mako ndak galak ji cuman freezer ki saja “

Aku pun melangkah mengahampiri orang yang di maksud, beberapa kali di panggil dia tidak menoleh, bagaimana mau menoleh kalau telinganya tertutup headset, terpaksa aku menepuk bahunya dan dia segera menoleh, tatapan heran melihatku, dia menurunkan headset nya

“kak minta waktu ta sebentar “ ujarku dengan ragu-ragu

Dan kuceritakan kenapa aku mencarinya, dia tidak berbicara apa-apa, hanya mengambil gitar yang tak jauh darinya, dan mulai memetik gitarnya, kuperhatikan kunci-kunci apa saja, ternyata mudah saja hanya 4 kunci saja petikannya pun tidak susah, hanya sedikit aneh saja kurasa karena, baru kali ini memainkan nada dangdut, tapi ternyata hal yang paling susah adalah menghafal liriknya, benar-benar bahasa bugis, aku sampai di printkan liriknya

Berkali-kali aku salah mengucapkan kata, Aku memang orang bugis, tapi dari kecil tinggal di Papua dan saat kelas 2 SMA baru pindah ke makassar, pace sama mace orang sibuk, jarang di rumah, bahasa yang di gunakan juga bahasa Indonesia.

Tepat 20 menit aku kembali ke aula, saat itu sekelompok cowok-cowok berseragam yang sama dengan ku sedang bernyanyi dengan di iringan gitar.

“bagaimana sudah mi “Tanya senior gondrong itu

“sudah mi kak “ jawab ku ragu

“yakin itu sudah “

“iya kak “

Aku kembali ke panggung, jantungku berdebar begitu kencang sangat kencang, seandainya saja bisa terdengar pasti mereka semua akan tertawa, ampun aku lupa dengan petikan lagu tersebut, nadanya liriknya, tiba-tiba saja hilang, padahal sebelumnya aku tidak pernah  demam panggung kaya gini, mungkin karena lagunya lagu dangdut, senior gondrong yang mengerjai ku itu menatapku lekat, seperti ingin menggigitku saja, kali ini matilah aku.

Kulihat cowok yang mengajariku tadi itu datang berdiri di samping senior gondrong bernama kak roim, dia sepertinya tau bahwa aku sedang kacau. Dia menggerakkan tangannya menunjuk kedua matanya dan menggunakan dua tangannya menutup matanya.

Aku mengerti ternyata dia menyuruhku menutup mata, aku segera menutup mataku, aku mengingat sesuatu kata kak anca yang pertama kali mengajariku bermain gitar  dengan menutup mata ko akan lebih fokus.

Anggap tidak ada orang hanya kamu sendiri, tidak ada siapa-siapa..
Aku menggerak kan tangan ku mulai memetik senar-senar gitar, jari-jari ini seakan tau sendiri nada-nada lagu itu, dan aku pun seakan ingat apa yang tertulis di kertas yang di print tadi, sungguh luar biasa menurutku.

Semua bertepuk tangan saat aku sudah menyelesaikan lagu dangdut bugis pertamaku
Tapi ternyata senior gondrong itu tak puas, dia bilang aku terlambat dua menit dan aku dia menghukumku, kengkreng 10 kali di atas panggung. Sungguh hari yang luar biasa, sangat luar biasa karena untuk pertama kalinya aku menyanyikan lagu dangdut bugis, dan untuk pertama kali aku bertemu dengan dia, Mr.Freezer
……

Sepanjang malam ini aku galau, ada apa dengan dia, dia sama sekali benar-benar tidak menghubungiku, padahal aku benar-benar berharap walau hanya 1 sms, sungguh membuatku bingung, apa aku salah, tapi salah apa, atau jangan-jangan dia memang tidak pernah punya perasaan dengan ku.

“sini ko dulu tomboy “ senior gondrong bernama kak roim memanggilku, aku yang berencana segera pulang ke pondok mengurungkan niatku, padahal  mau tidur capek seharian kuliah full dari pagi sampai sore.

“dicari ko popo “ ujarnya,

Cowok yang punya panggilan  popo yang ada di dekatnya hanya melirik ku saja

“kenapa kak ?” tanyaku dengan suara lemas, aku lapar dan sangat mengantuk, wajahku pun sepertinya sudah sangat acak-acakan

“bah masa pake nanya ko piping “ ujar kak uban, teman kaceku “ nasuka ko itu makanya na cari ko “ 

“jangko percaya “ ujar kak popo cepat, dia kelihatan sangat salah tingkah

“apa ji popo, kalau ada orangnya ndak jujur mi itu, coba kalau ndak ada ko terus itu na fikir piping ……piping ooh piping“

“apa semua ini…” kak popo dia mengambil tasnya dan melangkah pergi, sepertinya dia tidak suka dengan candaan teman-temannya

“apa ji ko popo masa sama cewek manis saja ciiut ki “ ledek ka roim, membuat kak popo berhenti melangkah dan kembali, dari matanya dia kelihatan kesal dengan ocehan-ocehan teman-temannya yang gila itu.

“sini sa antar ko pulang “ dia menarik tas ransel ku, aku hampir terjatuh saat dia menarikku, aku sudah seperti kambing, dia mengantar ku pulang ke pondok, ngantarnya sih pake jalan kaki sepanjang jalan jadi perhatian, dan satu hal sepanjang jalan ga ada yang bicara bahkan dia pasang headsetnya, tapi jika aku memperlambat langkah ku dia akan juga memperlambat langkahnya.

Besok harinya, sudah tersebar berita kalau aku jadian dengan kak popo, padahal dia hanya mengantar ku pulang. Membuat ku tidak enak jika bertemu dengannya di koridor dan anak-anak yang lain akan memperlakukan ku sama, menatap dengan tatapan yang aneh.

Gosip itu ternyata jadi nyata, dia mengajak ku makan di jasbog, padahal begitu banyak mahasiswa yang sedang makan di sana, mengambil meja di pinggir, tak ada kursi yang tersisa hanya yang ada di sampingnya.

Memesan 2 mangkok bakso, dan 2 dua es teh,

“weee..popo  makan  dan ngajak-ngajak” seorang cewek menghampiri “popo punya ka dua tiket nonton, tadinya mau ka pergi sama egi tapi dia ndak jadi, bagaimana klo pergi ki sama “ 

“saya sudah ada janji juga mo nonton“ jawab kak popo cepat
“janji…janji sama sapa mi sede”

“sama di sebelah ku “ , cewek itu memperhatikan ku “ pacarku  “ ujar kak popo membuatku hampir tersedak dengan kuah bakso yang pedas banget

“knapa lama sekali ko makan, telat ki nanti nonton  “ ujar kak popo padaku, dia berdiri dari duduknya membayar makanan dan datang lagi menarik tasku, menariku pergi, ouh sungguh terlalu.

Sejak itu lah, entah bermula dari mana, semua tau kalau kami pacaran, padahal si tinggi kurus itu sama sekali tidak pernah bilang “ ku suka ki, mau ki jadi pacar ku kah “

Awal, aku sama sekali tidak punya rasa dengannya, benar-benar tidak punya rasa sama sekali, tapi dia yang begitu cuek membuatku sangat penasaran, dan lama kelamaan aku punya juga rasa itu, jantung ku selalu dag dig dug jika bertemu dengannya, dalam waktu sebulan jika dia tidak bertemu dengannya aku akan uring-uringan, dalam waktu dua bulan aku tau dia seperti apa, Mr. Freezer, super cuek, Beku, hanya berbicara seadanya kepadaku, tidak pernah sms kecuali bertanya soal tugas kuliah, aku sekelas dengannya di mata kuliah yang dia ulang, dia tidak pernah datang ke pondokan ku, hanya sekali-kali mengajak ku keluar itu pun hanya mengajak ku makan, setelah itu mengantar ku pulang.
Dan sekarang aku pun mulai bertanya pada diriku sendiri, sikapnya seakan menunjukkan kalau aku ini bukanlah siapa-siapa buat dia, mungkin dia hanya ingin menyelamatkan diriku dari gangguan teman-temannya, menyelamatkan diriku dan dirinya dari gossip-gosip di kampus.
……………………..
“sudahlah “ itu yang aku katakan pada diriku saat dia mengacuhkan ku selama 1 minggu, dan aku juga sama sekali tidak pernah mencoba untuk menghubunginya lebih dulu, aku cewek periang tapi untuk masalah seperti ini aku memilih diam, tidak ingin memulai, jika memang dia memang peduli, tentu dia akan menghubungiku , tapi kenyataannya dia memang tidak pernah peduli.

Jadi kufikir yah sudah lah, lagian sejak awal dia tidak pernah melakukan PDKT kepadaku, dia tidak pernah bilang suka denganku jadi wajar jika terjadi hal seperti ini. Dan saatnya menyudahi apa yang telah terjadi

Aku bersyukur dia tidak ada di sekret nya saat aku mengantarkan sweternya, sweter yang dia pinjamkan kepadaku saat bertemu dengannya di tempat parkir, saat itu hujan dan aku memaksa diriku untuk segera pulang “cepatnya pulang piping “ ujar kak nina pacarnya kak roim, dia mengenal ku aku pun begitu, karena dia juga salah satu teman kace ku.

“mau pulang kerumah di minasaupa kak “

“ada kak anca di sana kah ?”

“ndak ada kak, belum pi pulang “

“terus apa paeng mo ko ambil di manasaupa ?” Tanya kak roim

“ada macea datang, besok mau ki pulang jadi mau ka nginap di sana “ aku pun segera pamit, aku takut jika dia datang , buru-buru keluar ternyata aku bertemu juga dengannya pas di depan  jalan menunggu taxi pesanan ku, pertemuan yang sedikit membuat perasaan ku sakit, dia tidak sendiri, tapi dengan cewek oriental itu. Untungnya taxi pesanan ku datang,  tanpa bicara apapun aku segera naik.

Sepanjang perjalanan perasaan ku sungguh kacau, sakit yang tertahan, banyak fikiran negatif yang mengangguku, begitu banyak pertanyaan yang tidak kudapatkan jawabannya.

Dia benar-benar tidak peduli, seharusnya dia mengerti akan sikapku tadi yang sama sekali tidak menyapanya, dia kirim sms kah atau apakah, benar-benar sama sekali tidak perduli, dia mengacuhkan ku begitu saja.

“mo ki kemana dek “ Tanya si sopir taxi

Cepat-cepat aku menghapus air mataku “ ke minasaupa pak “

……


Kuhentikan langkah ku saat aku tau siapa yang sedang berdiri di depan halte, dia menatap ku lekat, ku buang pandangan ku ke tempat lain.

“mau ka bicara sama kau “

Sebenarnya aku sangat mengantuk dan perasaanku sangat begitu kacau, tapi jika memendam terlalu lama, aku yakin aku bisa membunuh orang, jadi sebelum aku benar-benar membunuh orang lebih baik di selesaikan saja, mumpung orangnya ada.

“mo ki bicara apa “ Tanyaku dengan suara serak, aku terserang flu karena menangis  semalaman.

“ ko marah sama saya ?” tanyanya

Ucapannya itu membuat ku tersenyum “ kenapa mo marah ka….” Ujarku dengan nada sedikit tertawa, ucapan ku itu merasa kalau ucapannya nya itu lucu, padahal itu sama sekali tidak lucu, membuat dia hanya terdiam.

Aku menghela nafas berat, mungkin sudah saatnya aku mengatakannya “ sa mau seperti awal lagi “ ujarku.

“maksud mu” sahutnya cepat

“sa aneh dengan semua ini, rasanya tidak normal jika kita berdua terus-terusan bersandiwara” jawabku berat

“aku tidak pernah bersandiwara “ ujarnya kemudian

“apa pun itu, sa benar-benar mo seperti awal lagi, mengantuk sekali ka kak, sudah mi nah, saya duluan “ ujarku pamit, tanpa menunggu ucapannya aku melangkah pergi, kupasang headset ku, ku putar lagu milik nirvana “smile like than spirit”

Tapi lagu itu tetap membuat perasaan ku tidak membaik sama sekali, apalagi mengingat kejadian kemarin.

………

Nila menepuk pundak kencang sambil matanya melirik ke seseorang yang berjalan kearah kami, aku cepat-cepat menarik nila masuk ke dalam kelas, menunggu sampai dia lewat, setelah dia lewat, baru aku menarik nila keluar.

“ikhhhh ko kaya apa saja..sampai kapan ko mo menghindar kah “

“ributnya ini anak “ omelku seraya menariknya pergi
“masih ko sayang ki toh “

“tidak “ jawabku cepat

“balle..balle mi lagi “ ledeknya

“saya bilang  tidak yah tidak “ ujarku tanpa sadar membentaknya “sory la, saya ndak bermaksud…. “ dia menatapku lekat “ tolong jangan bertanya lagi soal itu…” ujarku dan berlalu begitu saja, meninggalkan sahabat baikku.

Seandainya saja ada bisa merasakan apa yang sedang aku rasakan.

……..

Sementara yang lain sibuk pergi asistensi, aku sibuk bermain gitar di kamarku, menyanyikan semua lagu yang pernah aku buat sendiri, aku pasrah jika nilai lab ku dapat E, lebih baik E dari pada aku harus bertemu dengannya, dia asdos untuk lab metalurgi.

Cinta.

Sungguh sesuatu yang luar biasa yang di ciptakan tuhan, dia mampu membuat orang melakukan apa saja, dan sakit hati juga adalah sesuatu yang luar biasa yang di ciptakan tuhan dia pun mampu membuat orang melakukan apa saja.

“ na cariko kak popo “ ujar nila saat datang ke pondok, aku tidak menghiraukan ucapannya, terus ku petik senar gitarku. “ inie dari kak popo “ ujarnya menaruh sesuatu di atas meja ku, setelah itu dia pergi, aku benar-benar jahat memperlakukan sahabatku seperti itu, tapi aku benar-benar tidak ingin mendengar nama itu.

Sebuah buku asistensi yang dia taruh di atas mejaku, aku mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah

………

Tadinya aku begitu mengacuhkan tiket nonton yang di berikan kak ratna di sebelah kamarku, tapi kebosanan ku membuatku mengambil tiket yang tergeletak pasrah di atas meja, filmnya di putar jam 4 dan hampir saja aku terlambat, buru-buru aku berjalan dan aku tidak melihat yang di depan ku, dan aku benar-benar menabrak orang itu, dia menoleh dan sungguh aku tidak bisa melupakan saat itu, dia dan cewek oriental itu, mereka sedang berjalan bersama ,cewek oriental itu memegang tangannya.

“sorry “ ujarku cepat dan aku melangkah pergi , kupasang headset ku, aku tidak sedang memutar lagu, tapi entah kenapa aku memasangnya, rasanya aku benar-benar ingin menghilang secepatnya.

Tak ada lagi niat untuk menonton film, tiket aku buang di tempat sampah, aku tak tahan dan berlari ke toilet, tak ada orang dan kutumpahkan semua tangisku di dalam toilet, satu gulung tissue habis hanya untuk mengahapus air mataku.

Menyesal aku datang dan melihat apa yang harusnya tidak ku lihat, sangat menyakitkan hatiku.

………

“ada waktu ta’……” ujar Regina saat aku baru keluar dari kelas mata kuliah kalkulus 2, aku tidak mau banyak bicara jadi aku mengikutinya menuju kursi di depan rektorat.

“saya pernah dengar ko pacaran sama popo, tapi kau tau tidak kalo popo itu cuman main-main sama kau, sejak dia saya putuskan ki dia ndak pernah serius sama cewek mana pun, apa yang dia lakukan cuman buat hindarin callanya teman-temannya ji“ ujarnya, dan aku hanya tetap diam saja dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya “ sa sekarang sudah kembalian sama popo “ ujarnya menaruh headset dan sebuah pick gitar di dekat ku, setelah itu cewek cantik berwajah oriental itu meninggalkan ku.

Aku hanya bisa menghela nafas, aku tidak tau mana yang lebih terasa rasa lega karna sudah mengetahui yang sebenarnya atau rasa sakit di dadaku karena tau yang sebenarnya. aKu hanya memgambil pick gitar milikku dan headset itu aku tinggalkan begitu saja, aku pernah memberikannya dan tidak akan aku ambil lagi.

……

“tunggu ka” panggil ku nila, dia menunggu ku, dan melihatku heran  “kira-kira masih bisa ka  menyusulkan tidak di’…”

Dia tersenyum dan merangkul pundakku “ tenang mako saja, nanti saya yang loby kak irna tapi klo kak popo ko mo saja “ 

Tatapan-tapan heran menatapku saat aku masuk ke dalam lab, aku tau akan mendapat tatapan seperti itu, jadi aku cuek saja, dia di sana bersama kak irna, dia menatapku lekat, aku hanya tersenyum saja, telah kuputuskan memulai awal yang baru, kisah beberapa 3 bulan yang lalu buatku hanya lah sebuah mimpi buruk yang berbekas.

Awal buatku memang terasa sangat berat, tapi aku berusaha untuk mengatasinya Dan tidak ada alasan aku untuk berlarut-larut.

Dia menyerah kan tugas lab ku yang telah dia ACC “ makasih kak “ ujarku segera memasukkan tugas ku ke dalam tas, lega juga akhirnya tugas Lab ku telah di ACC , dan aku pun lega ternyata aku bisa mengatasi apa yang selama ini aku takuti, aku sampai memuji diri ku sendiriku atas keputusan ku iklas di sakiti dan memaafkan dengan tulus orang yang pernah menyakitiku.

…………….
“wooooooooooooo” seru mereka beserta tepuk tangan saat aku mulai memetik nada gitarku dan menyanyikan lagu yang aku pilih untuk pembuka pestival musik di kampus
Beberapa orang mengikutiku menyanyi, mereka tampak semangat padahal inikan lagu sedih, mungkin hanya aku yang merasakan tentang lagu ini, semua bertepuk tangan saat aku mengakhiri lagu tersebut .

“lagi..lagi…lagi..lagi “ ujar mereka ramai, padahal aku sudah turun dari panggung, tapi panitia memanggilku kembali untuk menyanyikan satu kali lagi lagu milik wonder girls tersebut, mau tidak mau aku menyanyi lagi padahal kan aku hanya penyanyi solo pembuka pestival musik di kampus, tadinya aku ga mau, tapi sebagai salah satu anggota organisasi aku terima saja.

Suasananya kali ini lebih mendukung lampu sengaja sebagian di matikan, sedikit redup, serasa aku lagi konser tunggal saja, dalam hati ku yang paling dalam aku berharap dia ada dan mendengar lagu ini, aku ingin tau kenapa...

 I want nobody nobody but you
 I want nobody nobody but you
 How can I be with another, I don’t want any other
 I want nobody nobody nobody nobody

Why are you trying to, to make me leave you
 I know what you’re thinking
 Baby why aren’t you listening
 How can I just, just love someone else and
 Forget you completely
 When I know you still love me

Telling me you’re not good enough
 My life with you is just too tough
 You know it’s not right so
 Just stop and come back boy
 How can this be when we were meant to be

I want nobody nobody but you
 I want nobody nobody but you
 How can I be with another, I don’t want any other
 I want nobody nobody nobody nobody

Why can’t we just, just be like this
 Cause it’s you that i need and nothing else until the end
 Who else can ever make me feel the way I
 I feel when I’m with you, no one will ever do

Telling me you’re not good enough
 My life with you is just too tough
 You know me enough so you know what I need boy
 Right next to you is where I need to be

I want nobody nobody but you
 I want nobody nobody but you
 How can I be with another, I don’t want any other
 I want nobody nobody nobody nobody

I don’t want no body, body
 I don’t want no body, body

Honey you know it’s you that I want, It’s you that I need Why can’t you see

I want nobody nobody but you
 I want nobody nobody but you
 How can I be with another, I don’t want any other
 I want nobody nobody nobody nobody

Back to the days when we
 were so young and wild and free
 Nothing else matters other than you and me
 So tell me why can’t it be
 please let me live my life my way
 why do you push me away
 I don’t want nobody nobody nobody nobody but you

…………….

 Terlalu cepat ku menyanyangimu
 Tak cukup bercerita
 Namun terlanjur ku mencintaimu
 Meski ku tak mengenalmu


Hingga akhirnya ku terjebak
Dalam kesalahan ku ‘tuk mencintaimu
Hingga kini aku tak mampu untuk melepas diriku
Dan melupakanmu




(Makassar, Aug' 2009)

Senin, 14 Desember 2015

Point Break 2015




     Point Break 2015, Buat Penyuka film bergenre Action, Thriller, Crime wajib banget untuk nonton film ini, awalnya sih sama sekali ga' ada rencana untuk nonton film di bioskop, tapi dari jam 3 sore sudah suntuk dan kebetulan Big Boss di office yang bernama Pak jhannes Silalahi (Big Boss : Badannya besar /semok...hehehehe sorry pak ) ngajakin kita nonton, dan dengan tanpa paksaan pun kita mau , mumpung gretongan...hahahahaha (sekali lagi sorry pak, wanita memang suka dengan yang namanya discount apalagi gretongan). 

     and singkat cerita jadilah kami berempat nonton bareng, saya, adek isti yang manis, Big Boss Teddy (yang ini Big Boss benaran Base Manager dikantor) dan Big Boss Jhannes,tadinya bukan film ini yang mau kita nonton, tapi film In the heart of the sea namun karena berhubung jam tanyangnya ga' ada yang di jam 7 malam, akhirnya kita milih film ini, itu pun karena ngeliat poster yang terpampang besar yaitu 2 cowok di atas gunung dengan motor cross yah dengan harapan setidaknya filmnya ga' membosankan karena ada gambar motornya, ini efek ga' baca sinopsis dulu sebelum berangkat dan efek pernah nonton  film dan teryata filmnya belum selesai sudah pengen keluar.

dan kali ini untungnya ga' salah milih film, endingnya sih kurang sedikit greget tapi buat aku film ini Keren lah. 

     just info untuk Break point 2015, baca baca dari blog sebelah, Point Break 2015 ini merupakan film produksi Warner Bros Picture yang bergenre Action-Thriller dan disutradarai Ericson Core dan skenarionya dibuat oleh Kurt Wimmer. Point Break 2015 ini adalah film remake dari film tahun 1991 dengan judul yang sama yang di bintangin aktor tampan pujaan saya  keanu reeves. 

     Film ini bercerita tentang Jhonny Utah yang di bintangi Lukas Bracey yang mencoba mencari tau tentang serangkain kejahatan yang mengakibatkan hancurnya pasar keuangan di dunia, dia mencoba menyusup kesebuah tim elit dari atlit olahraga ekstrem yang pimpinannya bernama Bodhi yang di perankan oleh aktor Edgar Ramirez (suka banget ngeliat lelaki satu ini )

     Dalam penyamaran  tersebut, mas Johnny (panggilnya mas aja deh  biar lebih akrab)  harus menghadapi kehidupannya yang sangat berbahaya seperti snowboarding, wingsuit terbang , panjat tebing tanpa alat , motor cross dan juga berselancar dengan gelombang yang sangat tinggi 


berikut penampakan penampakan adegan yang bikin tegang (versi saya), sampai deg degan, takut Mas Jhonny kenapa kenapa...hahahaha.




     ini adegan Mas Jhonny dan temannya baiknya Jeff sebelum jeff jatuh ke dalam jurang yang membuat mas jhonny berhenti dari olaharaga ekstrim dan berubah alih profesi menjadi FBI.




Adegan dimana Mas Jhonny dan Abang Bodhi saling bersaing untuk mendapatkan ombak tinggi di laut paris yang hanya muncul setahun sekali, di sini Mas Jhonny hampir mati karena terjatuh dari papan selancarnya, abang bodhi yang baik hati  merelakan ombaknya untuk menolong mas jhony yang hampir tenggelam, dan itu merupakan jalan masuk Mas Jhonny bisa bergabung dengan team atlet yang di pimpin oleh Abang bodhi.





Adegan terjun bebas dengan wingsuit dari gunung alpen, jika terjatuh dari atas gunung hanya 6 detik  akan sampai dasar di sinilah mas Jhonny di tantang, yah bintang utamanya pasti ga' gagal lah, kalau gagal yah habis cerita, dan mas jhonny yang berhasil akhirnya diterima bergabung dengan team elit olahraga ekstrim bodhi.






Buat aku ini adegan yang keren, lokasinya di Angel falls Venezuela, itu tuh yang di kartun UP, adegan ini tetap dilakukan oleh mas jhonny dan abang bodhi, untuk mengkomplitkan delapan ritual 'Ozaki Ono' abang bodhi memanjat angel falls tanpa bantuan alat sama sekali dan mas jhonny yang berusahan menghentikan abang bodhi pun ikut memanjat, namun udah susah payah manjat ujung-ujungnya  abang bodhi menjatuhkan dirinya, yah seperti adegan yang di atas, 

sebenarnya masih banyak adegan adegan yang lebih menantang lainnya, hanya saja beberapa adegan tersebut yang bikin saya deg-deg kan.


Berikut aktor-aktor yang bermain di film Point Break 2015:



  • Lukas Bracey sebagai Mas Jhonny Utah (senyum mu Mas...)




  • Edgar Ramirez memerankan Abang Bodhi (Tatapan Abang bikin adek ga kuat, Hahahahaha)


  • Teresa Palmer berperan sebagai Mba' Samsara, satu-satunya pemanis di film ini.


  • Delroy Lindo si Bapak  FBI Instructor


  • Ray Winstone Berperan sebagai  Angelo Pappas


  • dan yang terakhir adalah kami para penonton , Adek isti, saya,  Boss Teddy dan Big Boss Jhannes, ga nyangka fotonya ternyata seburam ini, tadinya akan saya edit di photoshop tpi sudah terlalu lelah, tak apalah membuat wajah manis saya tak dipublikasikan.
    
          Ikut-ikutan anak kekinian upload foto tiketnya, biar Gaaaaooooll Gitu.



       Thanks Big Boss Jhannes and Boss Teddy yang udah neraktir kita.... 

Minggu, 13 Desember 2015

Bebas..Terluka...

         Imo dengan susah punya mengepakkan sayapnya ditengah hujan deras disertai angin yang kencang, berusaha mencari tempat berteduh namun sepanjang penglihatannya hanya ada gurun tak ada satu pun pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh "tidak aku tak boleh menyerah " ujarnya menyemangati dirinya sendiri, tetap dikepakkan sayapnya walaupun dia sudah sangat begitu lelah, air hujan yang deras begitu menyakiti tubuhnya, seperti jarum jarum halus yang leluasa menusuknya.
   
       hampir setengah jam dia terbang dengan keadaan yang sebenarnya dibilang tidak memungkin kan untuk terbang, dia begitu nekad untuk terbang karena berdiam diri di gurun saat dalam hujan dan angin kencang sama saja menunggu perlahan lahan sang malaikat kematian menjemput nyawanya, tapi terbang seperti itu pun juga sama, sama menjemput kematian tapi setidaknya dia mancoba dari pada berdiam dan terkubur di gurun.
   
    Nafasnya mulai terengah engah, tenaga nya pun mulai melemah, kecepatnnya pun semakin menurun dan rasa putus asa mulai menyeruak, fikirannya telah melayang, membayangkan dirinya terjatuh ke atas gurun pasir, perlahan-lahan sang malaikat pencabut nyawa menghampirinya, merayunya untuk menyerah dan dia pun meyerah, sang malaikat pun terseyum, tinggalah tubuhnya yang sudah tak bernyawa di antara pasir gurun yang segera menenggelamkannya, tak menyisakan cerita sedikit pun tentangnya.

    "akhhh tidak, aku tidak boleh mati " teriaknya tanpa suara, "aku tidak boleh mati ", sayap kecilnya dipaksa mengepak tapi sepertinya memang sudah tak mampu "ouh Tuhan sudah waktunya kah kita bertemu " gumannya berputus asa "baiklah aku menyerah datanglah dan jemput aku " ujarnya pasrah,  di kepakkan sayapnya lebar-lebar untuk yang terakhir kalinya dan kembali mengingat hal-hal yang masih bisa di ingatnya, tentang masa indah dulu, terbang dengan bebas, berkejaran di antara ranting ranting pohon, mengepakkan sayap di atas air, menciumi bunga-bunga yang indah, yahh betapa indah nya dulu, dan sekarang kematian membuatnya begitu sangat-sangat takut.

      " Tuhan sambut lah aku " ucapnya lembut, di pejamkan matanya dan menanti yang akan terjadi, terjatuh dan mati, tapi beberapa detik kemudian dibuka kembali matanya, ditutupnya lagi dan dibuka lagi dia tak yakin ditutupnya kembali dan segera membuka lagi, matanya menangkap sebuah pohon yang tak jauh, hanya beberapa kali kepakan dan dia akan sampai.

       "aku tak bermimpi, aku tak bermimpi , aku tak brmimpi " ujarnya yang hampir menangis, menangis karena masih ada harapan dirinya untuk hidup, dengan sangat susah payah dikepakkan sayapnya, tertatih tatih, sakit yang luar biasa serasa akan patah, "tuhan kuatkan lah aku, jika memang sudah saatnya aku pasrah dan patahkan lah sayap ku ini " pintanya.

        akhirnya dengan segala kepasrahan, keputuasan, ketakutan akan kematian, keinginan untuk hidup, dan rasa sakit yang luar biasa dia pun sampai di pohon itu, pohon besar dengan daunnya yang begitu rindang, sisa tenaganya di gunakan berjalan diatas dahan mencari posisi yang bagus untuk berteduh.

       matanya mendapati sebuah sangkar indah yang tergantung di pohon itu, sangkar yang kosong tanpa pintu, dia mencoba berfikir untuk apa ada sangkar indah di pohon itu di tengah gurun, di langkah kan kakinya mendekati sangkar berwarna emas itu, sedikit berkilau saat di terpa cahaya, berayun ayun karena angin "sepertinya nyaman " gumannya mencoba ingin masuk " akhh tidak, bagaimana jika itu adalah sangkar burung lainnya " di hantikan langkahnya, namun seperti ada sesuatu yang menggodanya untuk masuk, dan dia pun masuk, matanya berkeliling menatapi betapa indahnya sangkar itu dan betapa hangatnya didalam sangkar itu.

         "baiklah aku akan beristirahat di sini dulu, setelah lelah ku hilang, aku akan segera pergi " gumannya seraya merebahkan tubuhnya yang lelah, kedua sayapnya menyelimuti tubuhnya " terima kasih tuhan untuk kesempatan hidup ini " ujarnya dan ia pun terlelap dan dengan harapan kondisi nya akan lebih baik saat bangun nanti.
       
          Burung kecil, dengan bulu indah itu tak pernah tau jika akan ada kisah yang akan dia mulai.

.............

        "Heiiiiiiiii, ayo bangun " suara halus dan merdu mencoba membangun kannya " ayo bangun, jangan tidur terus " suara itu kembali terdengar, perlahan lahan mencoba  membuka kedua matanya sedikit buram, di tutupnya kembali, rasa lelah masih menyergapi tubuhnya " hei jangan tidur lagi " suara itu kembali terdengar lagi, dengan cepat dia membuka kedua matanya, matanya berkeliling tapi tak ada penampakan dari suara halus lembut itu " mungkin ini hanya mimpi " gumannya.

        " tidak, kamu tidak bermimpi "suara itu membalas ucapannya, terdengar begitu dekat dengannya membuatnya terlonjak karena kaget, mata bulatnya berkeliling memandangi seluruh ruangan sangkar itu, tapi tak ada sesosok apapun kecuali dia.

        " ouh tuhan aku mulai berhalusinasi " gumannya pelan.

        " tidak..tidak..kamu tidak berhalusinasi " suara itu datang lagi memenuhi sangkar, rasa ketakutan menjelajari tubuhnya, bahkan membuatnya bergetar "si...siapa kamu " tanya dengan terbata, matanya mencoba mencari sosok itu.

        " aku...aku sangkar yang kamu tempati ini " jawabnya

        "Haaaaaaa.... " dia semakin terkejut dan terlonjak "arggghhhhh " keluhnya saat merasakan sakit di sayapnya.

        " jangan banyak bergerak, sayap mu cukup terluka parah, aku sudah mengobatinya mungkin 2 atau 3 hari lagi baru akan pulih kembali ", imo memperhatikan sayapnya ada perban disana membuatnya semakin takut dan semakin yakin sangkar emas ini memang berbicara .

         " kamu takut dengan ku " pertanyaan terlontar utuknya.

         takut ?. akkh dia memang sedang takut " tidak, hanya saja aku sedang terkejut " jawabnya

         " tenanglah, aku tak akan melukaimu, siapa namamu ?" tanya suara lembut itu

         " Imo"

         " Imo ?, itu nama yang lucu " timpalnya dengan sedikit tertawa, tawa yang renyah " aku Sang sunyi "

        " Sang Sunyi " gumannya

        " iya itu namaku, kamu dari mana dan kenapa sampai bisa di sini ?"

Imo mencoba mengingat kisah beberapa hari yang lalu dan kisah semalam pertarungan dirinya dengan kematian " aku dari hutan yang begitu jauh dari gurun ini, dan aku tersesat di gurun, semalam aku mencoba mencari tempat berteduh sampai aku menemukan tempat ini " jawabnya " maaf aku lancang sudah masuk tanpa izin mu "

        " tidak usah meminta maaf, lalu kamu mau kemana setelah kamu sembuh ?"

        " aku belum tau "

        " hemmm beristirahatlah, semoga cepat sembuh, ouh ya aku sudah mencarikan buah untuk mu, makanlah agar kondisimu semakin baik " ujar sosok tak nampak yang menyebut namanya adalah Sang Sunyi.

         imo semakin terkejut saat melihat di sampingnya banyak buah buahan, padahal sebelumnya tak ada apapun di sana " makan lah aku tidak akan meracuni mu dan itu bukan mimpi ", Imo mencoba menyentuhnya makanan makanan itu dan memang itu bukan mimpi, perutnya yang lapar menggodaya, di ambil satu buah berwarna merah dan segera memakannya, dia hampi berteriak karena buah itu begitu manis, begitu lembut dan sangat begitu menyegarkannya.

         " hemm boleh aku tauu, kenapa kamu bisa di sini ?" tanya imo pada sosok bersuara lembut yang tak nampak itu.

        "seseorang meninggalkan ku disini, tapi sudah lah aku tidak ingin bercerita " ujarnya dengan nada sedih

         " ouh maaf "

...................

     Akhirnya 3 hari telah berlalu, imo sudah terbiasa mengobrol dengan sosok yang tak nampak dan sudah tak terkejut jika tiba-tiba ada makanan di sampingnya, beberapa hari ini mereka saling tukar cerita, imo bercerita tentang perjalannya ke sana kesini dengan sayapnya sedangkan sang sunyi si sangkar emas bercerita tetang burung-burung yang kadang singgah dan beristrihat di dalam sangkarnya.

          " kamu ingin pergi ?" tanya sang sunyi dengan nada berat, Imo tak menjawab " tinggalah sebentar lagi, aku sudah lama tidak punya teman, aku sudah lama tidak mengobrol seperti ini " ujar sang sunyi, ada nada memohon dari ucapnnya,

      Imo seperti melihat sosok yang sedih di ujung sana tapi tidak jauh dari dirinya " baiklah aku akan tinggal beberapa hari lagi " ujarnya.
      " Benarkah " ujar sang sunyi dengan setengah berteriak.

      " iya "
        
............

     " jangan jauh-jauh " teriak sang sunyi saat Imo mencoba pertama kali kepakan sayapnya setelah sembuh dari luka.

     " iya, aku akan kembali, aku hanya berputar putar di sekitar sini "

     " iya aku akan menunggumu "

     sungguh bahagia imo dengan sayapnya yang kini bisa di kepakkan lagi, bahkan sekarang terasa lebih cepat dari biasanya, dia berputar putar di atas gurun, menukik tajam dan kembali naik lagi, seperti terbang untuk pertama kalinya, setelah lelah dia segera kembali ke pohon satu satunya yang ada di gurun tersebut, dan sang sunyi sudah menantinya dengan peerasaan yang kuatir

     " bagaimana rasanya sayapmu, apa masih sakit"

     " tidak, malah terasa sayap ini semakin kuat ", imo mulai bercerita tentang pengalaman terbangnya di gurun dan sang sunyi begitu antusias mendengarkan

..............
   
      hari pun berlalu, Imo dan sang sunyi pun semakin akrab, setiap hari mereka berbagi cerita, bercanda dan tertawa bersama, merasakan nyaman satu sama lainnya dan setiap hari pula imo akan terbang keluar dari sangkar mengarungi lautan gurun dan segera kembali karena tidak ingin membuat sang sunyi khawatir dan merasa kesepian.

      " Hei aku punya sesuatu untuk mu " imo meletakkan bunga kaktus didalam sangkar, bunga yang begitu tampak indah yang didapatinya di gurun, dan dia teringat akan sang sunyi, tubuhnya sedikit terluka tertusuk duri duri kaktus saat akan mengambil bunga itu, tapi tak dihiraukannya, ada keinginan membuat sang sunyi lebih bahagia

       " indahnya " ujar sang sunyi dengan nada begitu bahagia " terima kasih "

..........

       " imo kamu ke mana ?" ujar sang sunyi khawatir, Imo belum kembali juga, padahal dia sudah lama pergi dan biasa akan segera pulang, detik dan menit berlalu, tak ada tanda tanda kedatangan imo, membuatnya sangat sangat sedih, hingga keesokan harinya dilihatnya imo datang menghampirinya " hai sang sunyi, maafkan aku tidak pulang dan tidak memberi kabar " ujar imo dengan perasaan bersalah, tak ada jawaban dari sang sunyi " aku sudah berniat pulang, tapi mereka menahan ku dan aku sungkan menolak ", imo kembali berucap tapi tak ada tanggapan sedikit pun dari sang sunyi, imo tau kalau sang sunyi sedang ngambek, dia akan diam saja sampai rasa sebel nya hilang.

         " siapa yang menahan mu " akhirnya setelah sekian lama, sang sunyi pun bersuara, dia kasihan juga melihat imo duduk diam menunggunya berbicara.

        imo mulai bercerita, bahwa teryata tak jauh dari tempat dia menemukan kaktus itu ada hutan yang di penuhi dengan berbagai jenis burung dan mereka semua menyambutnya dengan baik, dan saat akan pulang mereka menahannya untuk tinggal karena kata mereka malam hari tak baik untuk terbang di atas gurun, sang sunyi menangkap rasa bahagia dari tatapan imo, dan itu membuatnya takut.


........

        kini imo tak lagi terbang di gurun saja, dia akan terbang mendatangi hutan itu, menikmati hutan yang sejuk dan bercanda ria dengan burung burung di sana, mereka juga saling bercerita tentang tempat tempat indah yang mereka datangi, ada keinginan pergi saat mereka mengajak nya terbang bersama tapi dia teringat sang sunyi yang setiap hari menunggu nya pulang, yang setiap hari menunggu nya bercerita, yang setiap saat menuruhnya bernyanyi walaupun suara sama sekali tidak bagus,

...........

     Sang sunyi begitu lega saat melihat imo datang dengan kepakan sayapnya, beristirahat dalam sangkarnya dan bercerita tentang hari ini, tentang segala pengalamnnya terbang di dalam hutan, dia nampak bersemangat menceritakan semuanya dan begitu berbanding terbalik dengan sang sunyi yang sedih melihat kebahagian itu, ada ketakutan merayapinya,

........

       sudah hampir 2 hari sang sunyi tak berbicara, dia seperti benar benar marah dengan imo, semuanya hanya karena imo tidak pulang seperti biasaya, padahal dia sudah menunggunya berjam-jam dengan rasa yang begitu khawatir apalagi sedang ada badai gurun, imo tak bisa pulang karena dia sedang terbang dengan burung lainnya dan mereka tidak bisa pulang kembali ke hutan karena  sedang ada badai.
      " sang sunyi, ku mohon berbicaralah, tolong jangan acuhkan aku seperti ini " imo memohon kepada sang sunyi, tak ada tanggapan ' aku tau aku salah, aku minta maaf "

         "Berjanjilah tak lagi membuatku kwatir, berjanji lah " sang sunyi bersuara.

        "aku berjanji padamu sang sunyi, aku tidak akan pernah membuatmu kwatir lagi seperti ini "

        " jangan berjanji jika tidak bisa kamu tepati, karena itu akan menyakitkan " tukas sang sunyi

        " aku berjanji dan akan aku tepati "

..........

       Sang sunyi kembali tertawa, dan bercanda seperti biasanya, mereka kembali merasakan nyaman kembali, dan imo pun selalu menepati janjinya tidak akan membuat sang sunyi khawatir lagi, imo benar-benar sungguh selalu berusaha menepati janjinya, bahkan saat susah pun di kembali ke pohon dimana sang sunyi berada, namun  hingga suatu hari sang sunyi kembali terdiam lebih lama dari biasanya, dia marah karena imo melanggar janjinya, imo tak pulang dan membuatnya larut dalam kesendirian beberapa hari, itu semua karena imo tersesat bersama burung burung yang lain namun sang sunyi tidak ingin mendengar penjelasannya.

       " sang sunyi, aku merindukan suara mu dan tawa mu, berbicaralah, jangan diam kan aku seperti ini, ini menyakitiku " ujar imo, dan seperti biasa sang sunyi diam mengacuhkannya " berbicaralah, aku menunggu mu " ujar imo lagi sambil menatap sudut di dalam sangkar, dia membayangkan sang sunyi ada di sana, terduduk terdiam dengan wajah yang sedih.

        hingga malam berlalu sang sunyi tetap tak berbicara, imo pun tertidur dengan lelahnya, dan saat terbangun di pagi harinya dia terkejut menemukan pintu sangkar yang dulu tak ada sekarang pintu itu ada di sana dan terkunci.

     " sang sunyi,... " ujarnya memanggil sang sunyi " sang sunyi berbicaralah, aku tau kamu mendengarkan ku " sang sunyi terdiam " aku mohon sang sunyi bersuaralah walau hanya satu kata saja " pinta nya memohon, sang sunyi tetap terdiam, begitu lama dan sangat lama membuat imo berputus asa karena sudah tidak punya cara lain untuk membuat sanga sunyi berbicara.

       " sang sunyi jika kamu tidak ingin berbicara denganku, aku akan pergi jadi tolong buka pintu sangkar mu dan aku tidak akan tidak akan meminta mu berbicara lagi dengan ku " ujar imo  degan nada sedih ada butiran air mata yang terjatuh.

        " maafkan aku imo, aku tidak bisa membuka pintu sangkarku " akhirya sang sunyi berbicara dengan suara serak " aku tidak ingin kamu pergi, tinggalah di sini dengan ku dan temani aku " sepertinya dia menangis

        "sang sunyi jangan menangis, aku akan tetap tinggal, aku tidak akan pergi aku tidak akan pernah meninggalkanmu "

..........

      Sang sunyi benar-benar tidak membuka pintu sangkarnya, dan imo pun tidak pernah meminta sang sunyi untuk membukanya, mereka kini bersama, sang sunyi begitu bahagia karena imo tidak lagi pernah pergi darinya, hari hari mereka kembali dipenuhi dengan canda tawa, mereka berdua terlihat begitu bahagia

        hingga suatu malam sang sunyi menyadari, bahwa imo sebenarnya tidak bahagia, saat imo tertidur dia melihat ada wajah sedih disana, wajah sedih yang lelah, lelah dengan kepura puraan bahwa dia bahagia terkurung didalam sangkar untuk menemaninya, imo telah berbohong dan menyiksa diri nya hanya untuk membuat nya bahagia, membuatnya tertawa, membuat merasa di butuhkan.

         " imo maafkan aku, aku telah salah, aku fikir kamu benar benar bahagia bersama ku,. " ujarnya dengan menagis.

.........
     
        " Hai Imo sudah pagi, Bangunlah " ujar sang sunyi membangun kan imo yang masih terlelap " imo ayo bangun " paksanya hingga imo terbangun, dan dia melihat pintu sangkat telah terbuka

        " sang sunyi...kenapa  " ujarnya tak melanjutkan kata katanya, tapi sang sunyi tau kalau dia ingin menanyakan tentang pintu.

      " Imo terbanglah, aku salah sudah mengurung mu disini bersama ku , sayap mu yang kuat itu tak akan ada gunanya jika tidak di kepakkan "

      " tidak aku akan tetap disini dengan mu, aku telah berjanji "

      " imo terbang lah, aku yang meminta, ayo terbanglah sudah lama sekali rasanya aku tak melihatmu terbang bebas, aku tau kamu sangat merindukan itu"

       " tapi..."

       " tak apa, aku sudah terbiasa di sini, terbang lah, nikmatilah "

Imo terdiam, menatap sudut sangkar dan mersakan sang sunyi ada di sana sedang tersenyum sedih" baiklah aku akan terbang,,, tapi aku akan kembali seperti biasanya " ujarnya.

      " tidak, aku ingin kamu terbang bebas sejauh jauhnya, mengelilingi semua daratan yang ada, jika kamu telah lelah dan merindukan ku maka kembalilah kesini, aku akan menunggumu " ujar sang sunyi.

    Imo kembali terdiam " aku pasti kembali " ujarnya lalu terbang keluar dari sangkar yang telah mengurung begitu lama, yang telah mengekang kebebasannya, yeng telah merenggut kebahagiannya.

     Sang sunyi terus memandangi imo yang terbang bebas, semakin kecil, kecil hingga tak terlihat lagi, tinggallah dia dengan kesedihannya, dia tidak pernah rela imo pergi tapi dia sudah tak bisa mengurung imo lebih lama lagi, dia sadar dia berbeda, dia hanya sebuah sangkar emas yang tidak bisa memberikan kebahagia ke Imo yang selalu ingin terbang bebas.

dan Imo tidak pernah tau, selama ini sang sunyi tidak pernah mengunci pintu sangkarnya, saat pintu itu di buka maka dia tidak akan pernah menemukan sang sunyi lagi untuk selamanya.



      

Sabtu, 12 Desember 2015

Menunggu adalah kesalahan terbesar

     Entah sudah berapa kali Bina membuka BBM nya, berharap ada kabar dari Fillah yaitu seseorang yang sangat sangat ingin dia tau bagaimana keadaannya sekarang, seseorang yang dari kemarin membuatnya uring uringan, membuatnya begitu kefikiran " ada apa?, kenapa dia ga menghubungiku" itu pertanyaan yang terus terusan muncul di kepalanya, padahal 2 malam lalu mereka berdua masih asyik telpon telponan, membicarakan cinta, membicarakan rindu yang tak pernah terobati, membicarakan akan masa depan bersama padahal mereka berdua sudah tak punya hubungan serius seperti dulu.
      "akhh mungkin dia sibuk " gumannya mengobati rasa gundah di hatinya.
      " yakin dia sibuk ?" suara yang sama dengan suaranya muncul di kepalanya
      "iya dia sibuk " balas tabina cepat
      "sibuk tapi dia masih bisa tuh ganti DP sm PM berkali kali " suara itu lebih cepat membalas ucapannya, dan membuat rasa nyut di hatinya, suara itu benar, fillah ga sibuk, dari kemarin dia masih aktif ganti DP dan PM berkali kali di BBM, bahkan di WA pun tadi sempat online 30 menit yang lalu  dan yang bikin miris tak sekalipun fillah mengirimkan kata apapun ke kontaknya.
      " kamu kenapa sih Fillah, aku salah apalagi " gumannya dengan perasaan sedikit kecewa.
dia kembali membuka BBM nya, walaupun tau tak akan ada kabar untuknya " kamu
 kemana sih " ucapnya geram, ingin rasanya dia mendelcon contak bernama Fillah Bodoh dari bbm nya agar sekalian dia tak usah tau tentangnya.
       tapi ga, dia ga akan melakukannya lagi, itu dulu saat mereka masih berstatus pacar, setiap bertengkar atau salah paham sedikit dengan mudahnya dia mendelcon dan memblokir semua komunikasi dengan fillah, hal itu terjadi berulang ulang kali, tidak ada rasa takut jika mereka benar-benar hilang komunikasi selamanya, karena dia yakin fillah benar-benar menyayanginya dan tidak akan lepas dari nya.
        " apa aku BBM duluan aja yah " ujarnya berfikir keras, di coba mengetik kata-kata untuk fillah
     
        Hai Fillah Bodoh, kamu lagi ngapain...(delete)

        Fillah bodoh kamu kemana ja sih, kok dari kemarin ga ada bbm aku.... (delete)

       Fillah kamu itu kenapa sih nyebelin banget..... (delete)

      " Argggghhhhhhh Brengsek..Bregsek...nyebelin " teriaknya sambil melempar ponsel nya ke atas tempat tidur, rasa sebel memenuhi ruang hatinya,  semenit kemudian di ambilnya kembali ponsel yang tidak bersalah itu dan kembali melihat bbmnya tetap tak ada pesan untuknya dari fillah, rasa putus asa mulai menyeruak masuk ke dalam fikirannya. dan beberapa menit kemudian air matanya berjatuhan dan tidak bisa terbendung lagi "Menunggu itu adalah kesalahan terbesar " status WA fillah di update beberapa menit yang lalu.

2 tahun 3 bulan, terpisah ruang dan waktu, tak pernah bisa melepas rindu, tertawa bersama, terlalu sering saling menyakiti, melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, caci maki, amarah, canda, tawa, tangis, kisah kita memang tak indah tapi kisah kita, aku dan kamu pernah terjadi, segala hal kuabaikan karena ada janjiku untuk menunggumu yang jauh disana.

"Menunggu adalah kesalahan terbesar "...

aku sadar aku sudah lama kehilangan mu, mungkin aku memang tidak pernah memilikimu atau mungkin kita memang tidak pernah saling memiliki..





Trip Singkat Lawang sewu & Candi Gedong Songo, Semarang.

" aku pengen ke semarang Mas " ujarku "Ayoo cuss ", dia selalu menjawab dengan seenaknya dia "serius" uj...